Demi Mainan yang Aman untuk Anak, Perhatikan 5 Hal Ini!

Hindari menilai kualitas mainan dari harganya! Mainan yang dibanderol dengan harga mahal, belum tentu memenuhi standar keamanan dan kenyamanan untuk anak. Bahkan, ada 5 hal yang perlu Ayah dan Bunda perhatikan, untuk menghindari risiko berbahaya dari mainan. Apa saja?

Mainan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang anak. Mainan yang bersifat edukatif, bahkan berkontribusi besar terhadap perkembangan kognitif dan motorik mereka. Maka, wajar saja jika Ayah dan Bunda begitu bersemangat setiap kali memilih dan membelikan mainan baru untuk anak di masa tumbuh kembangnya.

Belum lagi, kala melihat binar kebahagiaan yang terpancar di mata sang buah hati. Bisa-bisa, Ayah dan Bunda yang jadi kalap memborong mainan dari pusat perbelanjaan. Padahal, alih-alih bermanfaat, mainan yang buruk dan tidak aman, justru bisa berdampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental anak. Mengkhawatirkan, bukan?

Oleh sebab itu, utamakan kualitas di atas kuantitas. Lagipula, harga yang mahal, juga tidak menjadi jaminan mutu suatu mainan. Hindari pula pola pikir instan dengan memberikan gawai a.k.a gadget kepada anak agar ia tidak banyak bergerak. Karena, orang tua yang cermat dan cerdas, sebaiknya tidak gegabah dalam memutuskan segala hal yang berkaitan dengan anak.

Yuk, alokasikan waktu untuk berinteraksi dengan si kecil. Ayah dan Bunda bisa membuat atau mengajari anak membuat mainan sendiri untuk memancing kreativitas dan daya imajinasi mereka. Atau setidaknya, Ayah dan Bunda bisa melibatkan anak dalam diskusi saat hendak membeli mainan baru. Dengan demikian, anak akan terbiasa bereksplorasi, menjadi pemelajar mandiri, dan memiliki keterampilan sosialisasi yang lebih baik.

Lebih dari itu, Ayah dan Bunda pun dituntut lebih paham dan peka terhadap kriteria mainan yang aman dan ideal untuk anak, antara lain:

  • Apabila ada lapisan cat, harus bebas timbal dan bahan beracun.
  • Terbuat dari bahan yang mudah dicuci, apabila mainan berupa boneka atau pernak-pernik.
  • Peralatan mewarnai, seperti pensil warna, cat, dan krayon, tidak mengandung bahan beracun.
  • Untuk mainan yang dapat menimbulkan bunyi, berupa musik, nyanyian, atau murottal, pastikan tidak terlalu kencang, agar telinga tidak pengang jika mendekat.
  • Memiliki label SNI, atau telah sesuai dengan standar keamanan dan kesehatan mainan, berdasarkan Permenperind No. 24/M-IND/PER/4/2013 mengenai Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan secara Wajib.

Namun, tidak sampai di situ saja. Mainan yang diklaim aman atau berlabel SNI sekalipun, dapat berbahaya apabila digunakan secara tidak aman atau tanpa pengetahuan. Nah, agar Ayah dan Bunda bebas dari kekhawatiran, dan anak dapat bermain dengan aman dan nyaman, perhatikan 5 poin berikut ini:

  1. Pilih mainan yang tepat

Cermati fungsi mainan dan batasan usia yang tertera pada kemasan. Pilih mainan yang sesuai dengan usia, minat, dan karakter anak, agar dapat bermanfaat secara optimal. Karena, mainan yang melampaui kemampuan anak, dapat berbalik membahayakan atau membuatnya frustrasi.

Sebagai contoh, mainan yang perlu daya listrik sebaiknya baru boleh dimainkan tanpa pengawasan oleh anak di atas 10 tahun, untuk meminimalisir risiko tersetrum. Mainan berukuran kecil-kecil atau serpihan, seperti pasir kinetik, orbeez, playdough, dan manik-manik, juga sebaiknya tidak diberikan pada batita yang masih suka memasukkan segala hal dalam mulut, untuk menghindari risiko tertelan atau tersedak.

  1. Lakukan pendampingan dan pengawasan

Untuk mainan baru atau yang mainan cukup rumit, baca dengan saksama petunjuk penggunaan dan dampingi anak bermain. Ayah dan Bunda juga sebaiknya melakukan pengawasan agar anak selalu aman, hingga mereka dapat menyimpan mainan tersebut dengan baik dan benar seusai bermain.

  1. Periksa mainan secara rutin

Ayah dan Bunda perlu memeriksa kondisi mainan secara rutin untuk memastikan aspek keamanannya. Karena, bisa jadi kerusakan mainan dapat berpotenasi bahaya. Misalnya, ada bagian yang tajam, karat, atau mengancam keselamatan, seperti sepeda atau sepatu roda yang tidak berfungsi secara optimal.

  1. Jaga kebersihan mainan

Tidak perlu menunggu mainan terpapar kotoran. Bersihkan mainan secara rutin, agar tidak menjadi sarang bakteri. Baca petunjuk pembersihan mainan, termasuk alat dan bahan yang direkomendasikan, seperti sikat lembut, lap basah, atau tisu, dan cairan pembersih yang boleh digunakan, seperti air hangat, sabun antibakteri, atau sabun berbahan ringan.

  1. Cegah potensi bahaya

Hindari atau minimalisir segala risiko yang mungkin terjadi. Misalnya, ketika memberi boneka untuk anak usia batita, lepaskan payet, kancing, pita kecil, atau manik-manik, agar tidak sampai tersedak atau tertelan apabila terlepas secara tidak sengaja. Selain itu, Ayah dan Bunda juga perlu menghaluskan mainan kayu jika mulai berserabut atau terkelupas.

Selamat bermain bersama anak, Ayah dan Bunda!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email