fbpx

ASI Belum Keluar Pasca Melahirkan, Ini Sebab dan Solusinya!

Jika ASI belum keluar selepas proses persalinan, sering kali muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi? Bukankah bayi harus segera mendapat asupan? Bagaimana jika Si Kecil lapar? Apakah harus diberi susu formula?” Nah, untuk menjawab semuanya, Ayah dan Bunda harus tenang dulu. Tidak perlu gundah gulana, ya. Ini kondisi biasa, kok. Yuk, ketahui sebab dan solusinya!

Setelah proses kelahiran anak tercinta yang cukup menguras tenaga, Ayah dan Bunda akan segera berhadapan kembali dengan tantangan baru. Dan, salah satu yang menjadi prioritas, yaitu pemenuhan ASI eksklusif (ASIX) hingga bayi mencapai usia 6 bulan.

Saking pentingnya, perkara ASI yang belum keluar kerap menjadi topik hangat dan memancing pertanyaan di lingkungan sosial, mulai dari keluarga, teman, dan tetangga. “Sudah lancar ASInya?”, “Kok belum keluar ASInya?”, “Melakukan IMD atau tidak?”, dan sebagainya. Wah, Ayah dan Bunda yang tadinya santai-santai saja, bisa jadi kepikiran dan mulai panik.

Padahal, ASI belum keluar atau hanya keluar sedikit pasca melahirkan, masih tergolong wajar. Umumnya, payudara menghasilkan ASI berupa kolostrum, selama 3—4 hari pertama pasca melahirkan. Pengeluaran kolostrum tidak begitu deras untuk memudahkan bayi belajar menyusui.

Namun, meski secara kuantitas tidak seperti ASI biasa, kolostrum begitu berharga. Kolostrum mengandung zat imunitas yang dapat melindungi bayi dari infeksi virus atau bakteri. Kolostrum juga bersifat laksatif atau pencahar, sehingga dapat membantu bayi mengeluarkan mekonium atau kotoran pertamanya.

Nah, setelah masa-masa pengeluaran kolostrum ini, barulah payudara Bunda akan terasa kencang, sebagai tanda peningkatan produksi ASI.

Apa Faktor yang Menghambat produksi ASI?

Di sisi lain, ada kalanya terjadi hal-hal yang tidak ideal, misalnya produksi ASI terus menurun atau justru tidak keluar sama sekali. Faktor-faktor yang dapat menghambat produksi ASI, antara lain:

  • Kondisi psikologis Bunda yang tidak begitu baik, karena stres, cemas, atau lelah.
  • Berat badan tidak ideal, terlalu kurus atau justru mencapai obesitas.
  • Proses persalinan sulit atau disertai komplikasi.
  • Teknik menyusui yang kurang tepat, baik posisi, durasi, frekuensi, maupun pelekatan mulut bayi.
  • Asupan nutrisi yang kurang baik.
  • Kebiasaan merokok atau minum alkohol.
  • Efek samping obat flu atau alergi dengan kandungan pseudoephedrine.
  • Konstrasepsi hormonal berupa pil atau suntik.
  • Pernah menjalani tindakan medis pada payudara yang berpotensi merusak saluran ASI.
  • Retensi plasenta, ketika terdapat plasenta yang tertinggal di rahim.
  • Hipoplasia payudara, atau jaringan kelenjar ASI pada payudara tidak berkembang.
  • Menstruasi pasca melahirkan.
  • Berbagai penyakit, seperti kanker payudara, gangguan tiroid, infeksi, sindrom ovarium polikistik (PCOS), atau diabetes gestasional.

Selain faktor-faktor di atas, produksi ASI yang sedikit juga dapat terjadi karena Bunda hamil lagi. Ada pula faktor kelainan fisik pada lidah dan mulut bayi, seperti bibir sumbing atau tounge tie.

Bagaimana Cara Meningkatkan Produksi ASI?

Ketika produksi ASI sedikit, menurun, atau terhenti, harus ada kerja sama antara Ayah dan Bunda untuk saling menguatkan. Jangan cepat menyerah dengan memberi susu formula, ya. Meski sufor diperkenankan dalam kondisi super darurat, ASI tetap menjadi asupan yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan bayi. Lagipula, pemberian sufor justru dapat menurunkan frekuensi menyusui dan mengurangi stimulasi payudara untuk memproduksi ASI.

Akan lebih baik, apabila Ayah dan Bunda berupaya untuk meningkatkan produksi ASI dengan cara-cara sebagai berikut:

  • IMD (inisiasi menyusui dini), segera setelah kelahiran bayi.
  • Susui bayi setiap 2—3 jam, meski harus membangunkan bayi apabila tengah tertidur.
  • Istirahat cukup, relaksasi, dan menghindari stres.
  • Perbanyak konsumsi air agar Bunda tidak dehidrasi.
  • Pelajari teknik menyusui yang baik, terutama terkait posisi dan pelekatan mulut bayi.
  • Menyusui dari dua payudara secara bergantian.
  • Tidak merokok, dan hindari konsumsi minuman beralkohol.
  • Tidak memberikan empeng pada bayi.
  • Menjaga asupan gizi seimbang.
  • Pijat lembut payudara dari dada ke arah puting.
  • Memompa ASI, selama atau setelah menyusui bayi.

Kunci utamanya, produksi ASI akan meningkat seiring dengan intensitas stimulasi payudara, terutama dari mulut bayi. Namun, Bunda juga dapat berkonsultasi kepada dokter atau ahli laktasi apabila hendak mengonsumsi suplemen tertentu yang dapat meningkatkan produksi ASI. Konsultasikan pula apabila Ayah dan Bunda berencana memberi susu formula, atau mencari donor ASI.

Tapi, amati lebih dulu tanda-tanda kecukupan ASI pada bayi. Apakah benar bayi kekurangan ASI? Atau, hanya perasaan Bunda saja?

Karena, yang utama bukan banyak-sedikit yang cenderung relatif, melainkan cukup atau tidak bagi bayi. Parameter yang dapat menjadi acuan, yaitu sikap bayi ketika menyusu, status berat badan bayi sesuai standar internasional dari WHO, dan frekuensi buang air kecil, dengan kondisi normal 7—8 kali sehari.

Semangat mengASIhi, Bunda!

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn