Panduan Ringkas Menyiapkan ASI Perah (ASIP), Tanpa Ribet!

Atas berbagai alasan, kadang Bunda harus pergi dan meninggalkan bayi yang masih dalam masa menyusui. Tapi, mengingat ASI begitu penting bagi tumbuh kembang Si Kecil, menyiapkan ASI perah a.k.a ASIP menjadi wajib dilakukan dengan kaidah yang benar. Bagaimana manajemen ASIP yang tepat dan tetap simpel? Simak dulu, yuk!

Ayah dan Bunda tentu menginginkan agar anak dapat tumbuh sehat dan cerdas. Maka, pastikan Si Kecil mendapatkan haknya, berupa asupan ASI eksklusif pada usia 0—6 bulan, dilanjutkan dengan ASI dan MPASI hingga usia 2 tahun.

Bahkan, meski pemberian ASI harus melalui beragam tantangan, Ayah dan Bunda sebaiknya tetap berusaha, ya. Di luar sana, Ayah dan Bunda lainnya juga mengalami hal serupa, kok. Karena itu, muncul istilah “pejuang ASI”, untuk memberi semangat agar Ayah dan Bunda tidak mudah menyerah pada susu formula.

Nah, tantangan yang paling sering terjadi, yaitu ketika Bunda harus pergi beraktivitas dan meninggalkan Si Kecil di rumah. Tentu saja, Ayah dan Bunda tidak boleh menjadikan perihal ini sebagai alasan untuk mangkir dari ASI. Masih ada alternatif berupa ASI perah a.k.a ASIP, yang dapat Bunda siapkan sebelum bepergian.

Lantas, bagaimana cara menyediakan, menyimpan, dan memberikan ASIP dengan benar? Berikut ini manajemen ASIP ringkas yang dapat menjadi panduan bagi Ayah dan Bunda:

  1. Menyediakan ASIP

Untuk menyediakan ASIP, Bunda perlu memerah ASI terlebih dahulu. Bunda juga dapat memerah ASI kapan saja, apabila payudara terasa penuh dan bayi telah kenyang atau tidak bersama Bunda. Karena, selain menjadi persiapan saat bepergian, ASIP pun bisa menjadi campuran MPASI untuk melancarkan pencernaan bayi.

Memerah ASI dapat dilakukan dengan tangan atau pompa, baik elektrik maupun manual. Bebas saja, sesuai kenyamanan dan preferensi Bunda.

Apabila Bunda hendak menggunakan pompa, pastikan Bunda telah membaca petunjuk penggunaan dengan lengkap dan cermat. Sedangkan, jika bunda memerah dengan tangan, berikut ini langkah-langkah yang dapat Bunda lakukan:

  • Mencuci tangan.
  • Siapkan botol atau wadah steril, letakkan di bawah payudara untuk menampung ASI.
  • Pijat lembut payudara, kemudian tekan bagian areola dalam posisi jari-jari membentuk C. Hindari menekan puting, karena dapat mengakibatkan nyeri dan malah menghambat pengeluaran ASI.
  • Ulangi kembali, dengan memijat seluruh bagian payudara. Apabila ASI yang keluar telah sedikit, Bunda dapat melanjutkan ke payudara berikutnya, hingga ASI berhenti mengalir dan kedua payudara tidak terasa penuh.
  1. Menyimpan ASIP

Berikut ini poin-poin penting dalam menyimpan ASIP, yaitu:

  • Wadah atau botol yang Bunda gunakan untuk menyimpan ASIP, boleh terbuat dari kaca atau plastik, yang bebas dari Bisphenol-A atau memiliki label BPA free. Namun, hindari botol plastik sekali pakai.
  • Sebelum digunakan untuk menyimpan ASIP, lakukan sterilisasi wadah dengan pemanasan atau cuci menggunakan air hangat.
  • Pasang label pada botol, dan beri keterangan jam, serta tanggal pemerahan ASIP. Tuliskan nama, apabila ASIP hendak disimpan dalam kulkas bersama.
  • Letakkan ASIP pada bagian terdingin dalam kulkas, yaitu bagian belakang freezer. Namun, pastikan Bunda selalu mengambil dari yang paling awal diperah. First in, first out.
  • Untuk membawa atau memindahkan ASIP, pastikan Bunda menggunakan cooler atau tas isolasi khusus.
  • Perhatikan daya tahan ASIP, sesuai tempat penyimpanananya, yaitu:
  • 4 jam dalam suhu ruang.
  • 24 jam dalam wadah tertutup bersama kantong es
  • 5 hari dalam kulkas dengan suhu maksimum 4°C
  • 6 bulan dalam freezer dengan suhu -18°C atau lebih rendah dari itu.
  • Untuk menghindari risiko, buang ASIP yang terlalu lama disimpan, dan gunakan ASIP sesegera mungkin karena vitamin C dalam susu semakin menurun seiring waktu.
  1. Pemberian ASIP
  • Sebelum diberikan kepada bayi, atur suhu ASIP yang baru dikeluarkan dari kulkas dengan cara merendam botol ASIP dalam wadah berisi air hangat. Namun, setelah dihangatkan, hindari mengembalikan ASIP ke dalam lemari pendingin.
  • Hindari penggunaan microwave untuk memanaskan ASIP, karena akan menjadi terlalu panas bagi bayi, serta merusak kandungan ASIP.
  • Berikan ASIP menggunakan gelas khusus bayi (cup feeder) atau menggunakan sendok.
  • Berikan ASIP sesuai kebutuhan bayi di usianya, dan pantau tumbuh kembang anak untuk memastikan kecukupan ASI.
  • Ada baiknya, Bunda tetap menyusui langsung ketika bersama bayi, untuk merangsang produksi ASI dan membangun kedekatan dengan sang buah hati.

Meski perkara ASI tampak menjadi hak prerogatif Bunda, namun sesungguhnya peran Ayah sangat diperlukan. Akan lebih baik, apabila Ayah juga berkontribusi secara aktif dalam penyediaan ASI bagi Si Kecil, seperti:

  • Menjaga kondisi kesehatan Bunda, dengan membantu mengerjakan tugas-tugas rumah dan menyediakan makanan sehat atau suplemen tambahan, jika diperlukan.
  • Menjaga kondisi psikologis dan kesejahteraan Bunda.
  • Mencari informasi mengenai ASI dan ASIP, agar dapat membantu memberikan ASIP ketika tengah bersama bayi.
  • Menyediakan segala perlengkapan untuk menyiapkan ASIP, mulai dari wadah, lemari pendingin, hingga pompa, jika diperlukan.
  • Aktif bertanya pada Bunda, apakah perlu bantuan, atau ada kebutuhan dan keinginan yang perlu disampaikan.

Terus saling mendukung ya, Ayah dan Bunda pejuang ASI!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email