fbpx

Jangan Asal Memberi Madu untuk Bayi, Ini Bahayanya!

Meski memiliki segudang manfaat bagi manusia, ternyata konsumsi madu tidak disarankan bagi bayi yang berusia kurang dari 12 bulan. Wah, apakah Ayah dan Bunda tahu alasannya? Dan, apa saja dampak negatif yang dapat ditimbulkan?

Ayah dan Bunda tentu senang menyaksikan bayi bereksplorasi dengan makanan baru di masa MPASI. Namun, untuk Si Kecil yang masih berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya Ayah dan Bunda tidak memberinya madu, ya.

Karena, meski memiliki rasa dan tekstur yang sempurna sebagai bahan MPASI, ternyata madu justru berbahaya bagi bayi berusia 0—12 bulan. Dalam hal ini, termasuk pula madu murni, madu olahan, bahkan makanan ringan bayi yang mengandung madu.

Mengapa bayi di bawah 1 tahun tidak boleh mengonsumsi madu?

Risiko utama yang mengintai jika bayi mengonsumsi madu, yaitu botulisme atau keracunan madu. Botulisme dapat terjadi karena spora Clostridium botulinum yang terkandung dalam madu murni dan produk madu. Spora tersebut akan menjadi bakteri di usus besar, dan memproduksi neurotoksin di dalam tubuh.

Meski kasus botulisme terbilang jarang terjadi, namun akan lebih baik jika Ayah dan Bunda menghindarinya, bukan?

Terlebih, dampak botulisme cukup fatal, hingga dapat mengancam nyawa Si Kecil. Neurotoksin yang dihasilkan, dapat menyerang sistem syaraf, dan berakibat pada kelumpuhan otot, disfungsi organ, bahkan gangguan pada sistem pernapasan. Dan, risiko ini akan semakin tinggi apabila bayi berusia kurang dari 6 bulan, karena daya tahan tubuh yang lemah dan sistem pencernaan mereka belum dapat melawan bakteri tersebut.

Karena itulah, apabila bayi terlanjur mengonsumsi madu, sebaiknya Ayah dan Bunda waspada dengan gejala-gejala botulisme yang bisa terjadi, antara lain:

  • Konstipasi
  • Tubuh lemas
  • Tangisan lemah
  • Kesulitan bernapas
  • Sulit menelan

Gejala di atas, biasanya mulai muncul pada bayi sekitar 12—36 jam setelah konsumsi madu. Sementara itu, ada pula yang baru menunjukkan gejala setelah berhari-hari kemudian. Kendati demikian, botulisme termasuk kondisi darurat, sehingga Ayah dan Bunda harus segera memeriksakan bayi ke dokter, untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Di sisi lain, daripada mengobati dan bertaruh dengan nyawa sang buah hati, Ayah dan Bunda tentu sebaiknya bersabar hingga anak berusia 1 tahun, untuk memberinya madu, sirup, atau pemanis apapun dalam MPASI. Lagipula, selain risiko botulisme, pemanis semacam ini juga dapat memicu gangguan kesehatan bagi Si Kecil, antara lain:

  • Kerusakan gigi, akibat kadar gula tinggi.
  • Obesitas, karena anak akan terbiasa dengan makanan manis dan berpotensi menginginkannya terus-menerus, sehingga dapat berlanjut menjadi kelebihan berat badan di usia dewasa, serta peningkatan risiko penyakit diabetes tipe 2, gangguan jantung, dan kanker.

Sebagai alternatif yang cukup aman, Ayah dan Bunda dapat memberi sedikit pemanis berupa sari buah atau sirup maple untuk MPASI anak yang masih berusia di bawah 1 tahun.

Kapan waktu yang tepat untuk memberi madu pada Si Kecil?

Tidak dapat dipungkiri, meski berpotensi bahaya bagi anak di bawah 1 tahun, madu tetaplah makanan sehat yang berkhasiat. Maka, Ayah dan Bunda boleh saja memberikan madu pada Si Kecil jika usianya telah lebih dari 1 tahun.

Ayah dan Bunda dapat menjadikan madu sebagai bahan tambahan pada MPASI, seperti pemanis alami dalam sajian oatmeal, olesan pada roti, atau mencampurkannya pada susu.

Namun, untuk berjaga-jaga, Ayah dan Bunda perlu tetap waspada. Setelah memberikan madu, amati reaksi tubuh anak selama 4 hari. Apabila Si Kecil tampak menyukainya dan tidak ada gejala negatif yang timbul, Ayah dan Bunda dapat memberikannya lagi.

Tenang saja, dalam kondisi yang ideal, madu akan sangat bermanfaat dengan berbagai nutrisi yang terkandung di dalamnya, seperti karbohidrat, vitamin B, vitamin C, asam amino, zinc, kalium, dan zat besi. Sajian alam ini juga kaya akan antioksidan flavanoid dan polifenol, serta memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email