Anak Tidak Suka Membaca Buku, Apa yang Salah?

Kebiasaan membaca buku semakin terkikis. Anak-anak dan orang dewasa lebih suka menikmati waktu di depan layar gawai mereka untuk bermain, menonton, atau berinteraksi di media sosial. Apakah Ayah dan Bunda juga demikian? Perlukah orang tua mendukung anak membaca buku di tengah luapan informasi yang sudah ada dalam jaringan?

Inovasi teknologi hadir bertubi-tubi. Generasi Z (Centennial) dan generasi A (Alfa) menjalani masa tumbuh kembang dengan privilese, berupa gawai yang semakin canggih. Informasi melimpah ruah, tidak lagi dimonopoli oleh buku-buku dan media cetak. Ada cara lain yang lebih modern untuk mendapatkan ilmu. Teks, video, audio, infografis, dan aneka sumber telah tersedia dalam jaringan.

Kalau begitu, masihkah orang tua perlu mendukung anak membaca buku?

Jawabannya: masih.

Tapi … mengapa? Mari kita telusuri alasannya!

  1. Tidak memberikan gawai untuk anak usia muda

Teknologi memiliki dua mata pisau. Hanya akan memberi manfaat secara optimal, apabila anak telah cukup bijak dalam menggunakannya. Jika tidak, kecanduan gawai dapat menjadi efek samping yang cukup berbahaya, terutama pada anak usia muda.

Maka, hindari pola pikir pragmatis memanfaatkan telepon pintar agar anak tidak menganggu aktivitas orang tua. Lebih baik, beralih pada buku-buku dan permainan edukatif yang mendukung keterampilan motorik dan kognitif pada anak.

Nah, mengapa buku lebih bermanfaat dari gawai? Simak poin selanjutnya!

  1. Melatih anak untuk fokus

Perhatikan detail visual yang ada pada gawai. Setiap aplikasi berlomba-lomba untuk memberikan tampilan yang nyaman bagi pengguna, sekaligus memikat kita untuk terus-menerus menggunakannya. Sulit berhenti, dan terus terpancing untuk membuka hal-hal baru yang “tampak” menarik. Singkat kata, adiktif.

Karena itu, anak yang terpapar gawai tanpa bimbingan dari orang tuanya, akan cenderung tidak fokus, dan kurang ketekunan. Anak akan mudah teralihkan, sebelum menyelesaikan suatu aktivitas. Anak akan sulit berkonsentrasi dan memahami suatu informasi, karena terdistraksi oleh informasi lain yang dikemas lebih menarik, namun bisa jadi, tidak lebih baik.

Dalam hal ini, membaca buku dapat memberi dampak yang lebih positif. Anak akan terlatih untuk fokus, berkonsentrasi, dan tekun dalam mempelajari sesuatu. Dengan demikian, anak tidak akan tumbuh menjadi sosok yang reaktif. Anak juga dapat mencerna dan memahami informasi dengan lebih bijak dan komperhensif.

  1. Mengembangkan daya imajinasi

Televisi dan gawai, cenderung menyajikan informasi dan kisah yang “cepat saji”, lengkap dengan visual untuk mendukung persepsi yang ingin ditanamkan. Sementara itu, membaca buku akan mengantar anak ke dalam suatu perjalanan yang lebih dalam. Anak dapat mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas mereka kala berupaya mengolah kata-kata dan pola informasi yang diberikan oleh sebuah buku bacaan.

  1. Mengaktifkan kinerja otak

Menurut buku Nicholas Carr yang berjudul The Shallow, gawai memberi kita limpahan informasi yang saling bersaing untuk menarik pengunjung. Mengutamakan tampilan di atas substansi. Kuantitas di atas kualitas.

Maka, apabila kita terlena dengan pola tersebut, kita tidak lagi punya kendali dan cenderung dikuasai oleh kondisi. Dalam tataran kecanduan, gawai menuntun kita untuk terus berlompat-lompatan dari satu informasi ke informasi lainnya, kurang perenungan, dan dapat membuat kita berpikir lebih dangkal.

Tidak demikian dengan buku. Membaca buku yang tepat, justru dapat berdampak hebat terhadap kinerja otak anak, seperti:

  • Memahami kosakata dan kalimat, yang memberi efek positif terhadap kemampuan komunikasi secara lisan dan tulisan.
  • Mengenal konsep dasar secara lebih efektif, mulai dari huruf, angka, warna, dan pola informasi.
  • Meningkatkan kemampuan mengolah semantik, berupa kata-kata dan kalimat untuk mendapatkan informasi yang utuh dalam proses pembelajaran.
  • Mengaktifkan memori, melatih rentang atensi, nalar, dan kemampuan memecahkan masalah.
  1. Membangun interaksi dengan orang tua

Pada anak usia muda yang belum bisa membaca, melihat-lihat pola, bentuk, dan gambar akan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun, akan lebih bermanfaat jika Ayah dan Bunda turut terlibat di dalamnya.

Karena, membacakan buku atau membahas segala hal yang ada di dalam buku, akan membangun kedekatan secara fisik dan emosional. Interkasi ini akan mengembangkan rasa empati, kepercayaan diri, dan kecerdasan emosi pada anak.

Dengan lima alasan di atas, jangan lagi menganggap buku terlalu konvensional dan dapat tergantikan oleh gawai ya, Ayah dan Bunda. Terus bantu dan dukung sang buah hati untuk bersahabat dengan buku-buku sejak usia dini.

Tapi, jika anak menolak dan tidak suka membaca buku, jangan pula dipaksa. Telusuri dulu faktor-faktor yang dapat membuat anak menolak untuk membaca buku, seperti:

  • Orang tua tidak memberi teladan untuk membaca buku.
  • Anak tidak tertarik atau sulit memahami buku yang diberikan.
  • Anak mengalami gangguan medis tertentu, seperti ADHD atau disleksia.

Selain tiga faktor tersebut, masih ada alasan lain yang berpotensi menjadi penghalang antara anak dan buku. Penyebab yang beragam, tentu membutuhkan penanganan yang berbeda-beda pula. Namun, maksimalkan segala upaya yang dapat Ayah dan Bunda lakukan untuk membuat anak suka membaca buku, antara lain:

  • Memberi teladan, dengan membaca buku di depan anak.
  • Menemani anak membaca buku, agar ia merasa nyaman dan mendapat perhatian, sehingga membentuk kesan dan memori yang positif terhadap aktivitas membaca buku.
  • Menyediakan jenis buku yang tepat, sesuai usia, kemampuan, karakter, dan minat anak.
  • Menjauhkan perangkat lain, seperti televisi, radio, gawai, dan segala distraksi yang dapat memecah fokus anak.
  • Membangun kebiasaan membaca dan mengolah informasi selain dari buku, seperti papan iklan, kemasan produk, majalah, mainan, dan sebagainya.

Apabila cara-cara di atas tidak berhasil dan anak terlihat frustrasi, ada baiknya Ayah dan Bunda berkonsultasi pada ahli tumbuh kembang atau psikolog anak. Ayah dan Bunda juga perlu mengintrospeksi pola asuh dari kedua orang tua dan kebiasaan keluarga yang sekiranya dapat membuat anak kekurangan minat terhadap bacaan.

Namun, yang terpenting, tidak perlu resah. Meski anak terlanjur kecanduan gawai atau belum mengenal buku sejak usia dini, tidak ada kata terlambat. Bangun kebiasaan baik membaca buku mulai dari orang tua dan mulai dari sekarang.

Salam literasi.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email