fbpx

Kemampuan Bicara Anak, Berkembang Alami atau Butuh Stimulasi?

Tentu akan menyenangkan jika Ayah dan Bunda dapat membangun percakapan, serta mendengarkan anak-anak bercerita. Namun, ada rasa khawatir pula ketika Si Kecil belum lancar berbicara, pengucapannya kurang jelas, atau malah cenderung pendiam. Wah, apakah dapat berkembang secara alami atau butuh stimulasi khusus?

Dalam dunia pendidikan dan interaksi sosial, komunikasi memiliki peranan penting. Karena itu, kemampuan untuk berbicara, mendengar, dan memahami, perlu dilatih sejak dini.

Dan, meski keterampilan verbal anak akan berkembang secara alami, Ayah dan Bunda juga perlu mengupayakan berbagai stimulasi. Selain untuk mempercepat proses belajar, dukungan orang tua juga diperlukan untuk mencegah kondisi terlambat bicara, terutama pada anak yang tumbuh di lingkungan bilingual.

Sebagai langkah antisipasi, Ayah dan Bunda sebaiknya mencermati kemampuan bicara anak sesuai usianya, dengan acuan berikut ini:

  • Usia 3 bulan: mulai bersuara dan bergumam dengan “bahasa bayi”, serta mulai mendengar dan mengenali suara orang terdekatnya. Pada usia ini, bayi juga kerap menggunakan tangisan yang khas untuk menyampaikan keinginan yang berbeda-beda.
  • Usia 6 bulan: bersuara dengan suku kata yang lebih jelas, seperti “ma-ma” atau “ba-ba”. Menginjak trimester ketiga, bayi juga dapat menoleh ketika dipanggil, tertarik pada sumber bunyi, dan mulai mahir mengekspresikan perasaan sedih atau senang.
  • Usia 9 bulan: mulai paham dengan kata-kata sederhana, seperti “ya” dan “tidak”, serta dapat menyampaikan intonasi suara yang lebih variatif.
  • Usia 1 tahun: mampu mengucapkan dan menirukan kata-kata yang sering digunakan, seperti “ya”, “tidak”, “papa”, atau “mama”. Anak juga memahami perintah dan arahan, seperti “Ambil bolanya” atau “Ayo, duduk di sini”.
  • Usia 1,5 tahun: telah mahir meniru ucapan, mengenali benda dan bagian tubuh, serta dapat mengucapkan hingga 10 kata-kata dasar dengan pengucapan yang barangkali masih belum sempurna.
  • Usia 2 tahun: perbendaharaan kata meningkat hingga 50 kata dan mulai mampu berkomunikasi dengan merangkai dua kosakata, seperti “mau makan”.
  • Usia 3—5 tahun: semakin lancar berkomunikasi dengan menyerap berbagai kata dan meniru cara bicara orang-orang di sekitarnya. Anak pun mulai dapat menjawab pertanyaan, serta memahami aneka kalimat perintah.

Namun, dalam mengamati keterampilan verbal anak, Ayah dan Bunda juga perlu menghargai karakter dan bakat Si Kecil. Bisa jadi, anak lebih unggul dalam kecerdasan intrapersonal atau justru kinestetik-jasmani, sehingga tidak gemar berekspresi secara verbal-linguistik. Dalam hal ini, Ayah dan Bunda harus peka dalam mengamati kecenderungan anak dan memahami tentang teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Di sisi lain, Ayah dan Bunda tentu masih perlu mengupayakan stimulasi verbal secara maksimal, karena komunikasi menjadi modal penting dalam kehidupannya. Minimal, agar anak tidak mengalami terlambat bicara, hingga kesulitan dalam mengutarakan keinginannya.

Berikut ini 8 cara efektif untuk merangsang kemampuan bicara anak:

  • Berinteraksi secara aktif, bahkan sejak bayi baru lahir. Ajak Si Kecil bercengkerama, ajukan pertanyaan, jelaskan kegiatan yang sedang dilakukan, dan ceritakan hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya, seperti benda, keluarga, atau hewan. Lakukan terus-menerus dengan semangat, karena bayi akan terus menyerap informasi yang Ayah dan Bunda berikan.
  • Ulangi ucapan dan kata-kata anak, dengan pengucapan yang lebih jelas dan beri pujian jika anak telah mampu mengucapkan sesuatu.
  • Membaca bersama, untuk meningkatkan perbendaharaan kosakata, serta melatih anak untuk mempelajari susunan kata dan struktur kalimat.
  • Latih anak untuk mengucapkan keinginan, dan tidak hanya merengek atau menunjuk sesuatu. Beri pula contoh dengan pengucapan yang lugas dan jelas.
  • Jauhkan atau batasi paparan gadget, agar anak lebih aktif berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Sediakan waktu untuk bermain dengan anak, dan pancing anak untuk melakukan percakapan.
  • Lakukan percakapan dengan antusias, dengan gerakan atau menunjuk hal yang dimaksud, untuk memperjelas makna kata, agar anak lebih tertarik untuk mendengarkan dan memerhatikan. Misalnya, “ayo kita makan biskuit”, sambil menunjukkan dan menggerakkan biskuit di hadapannya.
  • Menyanyi dan membuat cerita, untuk meningkatkan minat anak dalam merangkai dan menggunakan kata-kata. Buatlah narasi tentang setiap aktivitas bersama Si Kecil, seperti “Sekarang mandi, dengan air hangat, supaya lebih segar, bersih, dan cantik.”. Ayah dan Bunda juga dapat mengucapkannya dengan bernada agar suasana terasa lebih gembira.
  • Latih anak makan dengan baik, dengan kunyahan yang benar untuk melatih fungsi oromotor.

Selain upaya stimulasi di atas, Ayah dan Bunda juga dapat berkonsultasi dengan dokter anak, terutama jika terdapat kekhawatiran mengenai keterlambatan bicara. Dengan demikian, Si Kecil dapat menjalani serangkaian tes sesuai prosedur yang diperlukan dan memperoleh diagnosis, serta penanganan yang lebih tepat.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email