Hindari “Pola Asuh Helikopter”, Virus bagi Pembentukan Karakter!

Pola asuh memiliki andil yang signifikan terhadap karakter anak di masa depan. Maka, orang tua perlu mengenal dan menghindari pola asuh yang dapat memberi dampak buruk, seperti pola asuh helikopter. Bagaimana ciri-ciri, dampak, dan cara menghindari pola asuh helikopter? Cari tahu, yuk!

Pola asuh helikopter terbentuk oleh serangkaian respon dan tindakan overprotektif, yang dilakukan oleh orang tua, secara sadar maupun tidak. Terdapat berbagai hal yang mendasari pola asuh semacam ini, antara lain: ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi terhadap anak, rasa ingin dihormati, persaingan, kurangnya kesabaran, atau kondisi lingkungan.

Di sisi lain, dalam takaran ideal, sikap protektif atau melindungi anak telah menjadi insting alami Ayah dan Bunda. Namun, apabila kurang terkendali, dapat berlanjut menjadi pola asuh overprotektif yang berpotensi memberi efek negatif dalam jangka panjang.

Terlebih, perkembangan teknologi juga berimplikasi pada laju perubahan zaman dan iklim yang kompetitif. Perihal ini, sering kali memicu orang tua menerapkan pola asuh helikopter, tanpa kesengajaan. Berbagai contoh perilaku overprotektif yang membentuk pola asuh helikopter pada setiap tahapan usia, antara lain:

  • Tidak membiarkan anak memilih atau menentukan keinginan.
  • Selalu ingin terlibat dalam kegiatan bermain anak.
  • Selalu mengerjakan kewajiban anak agar lebih sempurna, seperti menyelesaikan PR, kerajinan tangan, atau membersihkan kamar.
  • Orang tua selalu menentukan perilaku anak, minat, dan berbagai preferensi lainnya.

Dalam pola asuh helikopter, orang tua menjadi pihak yang superior dan “merasa” tahu segala hal yang terbaik untuk anak mereka. Meski tidak sepenuhnya salah, perspektif tersebut juga kurang tepat.

Lagipula, bukankah setiap individu terlahir unik dan spesial? Anak juga memiliki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, serta berpartisipasi secara wajar. Dengan penerapan pola asuh helikopter, terjadi pemangkasan hak anak yang akan berdampak buruk pada perkembangan karakter anak di masa depan, antara lain:

  • Senantiasa bergantung pada orang lain, karena orang tua tidak memberi kesempatan pada anak untuk belajar mandiri, seperti menyiapkan kebutuhan, mengurus keperluan sehari-hari, atau sekadar bangun tidur di pagi hari.
  • Kesulitan dalam menyelesaikan masalah, khususnya di lingkungan sekolah, karena tidak terbiasa mengatasi tantangan secara individu dan telah bergantung pada bantuan orang tua.
  • Menjadi individu yang tidak percaya diri, karena sangat jarang atau tidak pernah mendapat kepercayaan memilih, berpartisipasi, dan menghadapi suatu tantangan. Hal ini akan menyebabkan anak kesulitan menempatkan diri saat bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih besar.
  • Kurang mampu mengendalikan emosi, karena selalu terkekang oleh aturan orang tua dan mendapat pengawasan di setiap kegiatan. Dengan demikian, anak akan lebih rentan terhadap depresi.

Wah, alih-alih melindungi, ternyata pola asuh helikopter justru menjerumuskan anak dalam berbagai kesulitan hidup. Karena itu, sebagai konsekuensi menjadi orang tua, Ayah dan Bunda butuh ilmu yang mumpuni agar tidak salah bertindak dalam mengasuh dan mengasihi anak.

Berikut ini 4 hal yang dapat Ayah dan Bunda lakukan untuk menghindari pola asuh helikopter:

  1. Bebaskan anak bereksplorasi

Beri anak waktu untuk belajar dan berpikir secara mandiri, serta melihat dunia dari sudut pandang mereka sendiri. Cukup awasi dari kejauhan ketika mereka menjelajah dan mengeksplorasi lingkungan di luar rumah. Tentu saja, Ayah dan Bunda boleh membantu anak saat merasa kesulitan atau menangis ketika terjatuh. Namun, ajari mereka untuk bangkit, melanjutkan kegiatan, dan tidak putus asa hanya karena suatu hambatan kecil.

  1. Mencatat kemampuan dan pencapaian anak

Seiring pertambahan usia anak, keterampilan mereka akan meningkat dan terdapat pencapaian-pencapaian yang mereka raih. Ada baiknya, amati dan catat setiap perkembangan anak, serta berikan apresiasi atas segala hal yang mereka selesaikan sendiri. Selain menumbuhkan kepercayaan diri, catatan tersebut juga mengingatkan Ayah dan Bunda bahwa si kecil telah mampu dan tidak harus selalu dibantu.

  1. Memberi tanggung jawab, sesuai kemampuan anak

Latih anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari, dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan diri sendiri. Ajari anak untuk makan, membereskan mainan, membuang sampah, mencuci tangan, berganti baju, memakai sepatu, dan berbagai kemampuan dasar lainnya. Bangun situasi yang kondusif dan menyenangkan, agar mereka dapat melakukan segala kegiatan dengan sukarela, hingga terbentuk kebiasaan baik saat anak tumbuh dewasa.

  1. Mengenalkan konsep konsekuensi kepada anak

Ada kalanya, anak melakukan kesalahan. Mulai dari yang kecil, seperti terjatuh, menumpahkan air, atau merusak barang, hingga yang melibatkan pihak lain, seperti tidak mengerjakan PR, bersikap kasar, atau mengganggu teman. Sebagai proses pembelajaran, ajari anak mengenal konsekuensi dari setiap perbuatan mereka.

Biarkan mereka merasakan hukuman dan pertanggungjawaban yang sepadan, agar lebih waspada dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Misalnya, meminta anak untuk mengeringkan air yang ia tumpahkan, menyuruh anak meminta maaf jika telah mengganggu atau menyakiti orang lain, dan membiarkan anak menjalani hukuman dari sekolah apabila berbuat kesalahan.

Meski terasa sulit untuk menghindari pola asuh overprotektif a.k.a pola asuh helikopter ini, Ayah dan Bunda harus terus berusaha, demi masa depan mereka. Tidak ada salahnya pula berkonsultasi dengan psikolog anak untuk menggali ilmu, agar semakin tegar dan mantap menjalankan segala kewajiban sebagai orang tua.

Semangat mendampingi anak-anak yang hebat!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email