Anak Terlambat Jalan? Tenang, Ini Sebab dan Solusinya

Umumnya, di usia 8—18 bulan, anak akan mulai mencoba berdiri, berjalan dengan berpegangan, hingga memperlihatkan langkah pertamanya. Tapi, Ayah dan Bunda tidak perlu panik apabila si kecil belum menunjukkan tanda-tanda tersebut. Ketahui penyebab anak terlambat berjalan, serta cara mengatasinya di sini!

Langkah pertama sang buah hati, tentu menjadi momen berharga yang dinantikan oleh Ayah dan Bunda. Terlebih, ada saja orang-orang di sekitar yang gemar membanding-bandingkan pencapaian setiap anak. Mulai dari sekadar bertanya “Setahun lebih, sudah bisa jalan atau belum?” hingga kecenderungan mengejek seperti “Anak saya 8 bulan sudah bisa jalan, anak Bunda 14 bulan, kok belum?”.

Wah, tentu menyebalkan sekali, ya. Apalagi, jika terselip tudingan bahwa anak malas bergerak. Ada baiknya, Ayah dan Bunda tidak mendengarkan mereka.

Karena, perilaku dan ucapan yang tidak berdasar atau bernada sumbang, hanya akan mengganggu pikiran dan memancing emosi Ayah dan Bunda. Padahal, selama masa tumbuh kembang, anak sangat membutuhkan kepercayaan dan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.

Jadi, tenang saja, Ayah dan Bunda. Setiap anak terlahir jenius dan begitu unik. Mereka teristimewa dengan kecepatan tumbuh kembang dan kemampuan unggulannya masing-masing.

Meski umumnya, anak bisa berjalan di usia 8—15 bulan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sepakat untuk memberi batasan hingga usia 18 bulan. Nah, apabila di usia tersebut, si kecil masih belum mampu berjalan dengan kokoh, kerap berjinjit, gerakan kaki tidak seimbang, terlihat pincang, atau menunjukkan kelainan pada bentuk kaki, Ayah dan Bunda tentu perlu meninjau kondisinya lebih lanjut.

Tapi, ingat, kendalikan rasa khawatir, agar tidak berimbas pada pola asuh yang temperamental atau gangguan emosi lainnya. Ayah dan Bunda hanya perlu waspada, berkonsultasi dengan para ahli, dan mengetahui berbagai faktor yang bisa jadi penyebab anak terlambat berjalan, antara lain:

  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.
  • Kurang stimulasi untuk berjalan atau mengembangkan motorik kasar.
  • Kurang nutrisi yang dapat mendukung tumbuh kembang.
  • Kurang dukungan untuk berjalan, atau terlalu sering digendong.
  • Berat badan berlebih, sehingga sulit bergerak.
  • Bergantung pada baby walker.
  • Terdapat kelainan fisik atau penyakit berat, seperti gangguan pencernaan yang kronis, retardasi mental, cerebral palsy (kelumpuhan otak), dan sebagainya.

Maka, berkaitan dengan faktor-faktor yang masih dapat dikompromikan, Ayah dan Bunda perlu mengerahkan segala daya dan upaya. Berikut ini beberapa solusi untuk memperbaiki kondisi anak yang terlambat berjalan:

  • Hindari penggunaan baby walker, karena justru dapat menjadi penyebab keterlambatan berjalan dan meningkatkan risiko cedera yang cukup serius.
  • Berikan ASI dan MPASI dengan gizi seimbang, terutama yang mendukung pembentukan otot, tulang, dan persendian. Namun, perhatikan pula jadwal dan porsinya, untuk menghindari kelebihan berat badan, atau gangguan pada sistem metabolisme.
  • Batasi kebiasaan menggendong anak, dan ubah ekspresi kasih sayang menjadi lebih banyak pelukan, pujian, dan menemani anak bermain di lantai.
  • Biasakan telanjang kaki dalam ruangan, untuk merangsang saraf kaki dan melatih keseimbangan tubuh anak.

  • Ajak anak aktif bergerak, dengan bermain “kejar-kejaran”, mengambil mainan yang sengaja diletakkan cukup jauh, serta memberikan mainan yang dapat didorong.
  • Menitah atau menuntun anak berjalan, dengan memegang kedua tangan, dan posisi anak menghadap ke depan.
  • Lakukan pemijatan lembut, di area kaki, bokong, punggung, hingga leher, untuk menguatkan otot dan sendi, dengan cara yang dianjurkan oleh dokter anak.

Nah, apabila Ayah dan Bunda merasa telah melakukan segala stimulasi di atas untuk membantu anak berjalan, dan belum juga membuahkan hasil, tentu akan lebih baik jika Ayah dan Bunda menemui dokter tumbuh kembang. Dengan demikian, anak dapat menjalani serangkaian pemeriksaan yang layak, medapatkan diagnosis, dan saran yang tepat. Lagipula, barangkali ada terapi khusus yang perlu dilakukan untuk mengatasi kondisi si kecil.

Yang terpenting, tetap optimis, bersabar, dan berusaha, ya!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email