fbpx

Yuk, Kenali Bakat Anak Lewat Teori Kecerdasan Majemuk!

Ada beragam faktor krusial yang dapat menentukan kecerdasan seseorang. Karena itu, posisi tes IQ sebagai pengukur kecerdasan, kini mulai goyah. Di sisi lain, teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) menjadi penting untuk Ayah dan Bunda pahami dalam menyingkap bakat tersembunyi sang buah hati.

Setiap manusia terlahir untuk menjalani peran yang unik bagi dunia. Masing-masing individu memiliki keterampilan yang berbeda, dengan kejeniusan yang tak sama. Namun, sayang sekali, kemampuan dalam bidang eksakta kerap menjadi parameter tunggal untuk menetapkan segolongan orang yang dianggap “pintar”.

Ya, Ayah dan Bunda harus menyadari, ketidakadilan dalam menghargai bakat individu telah lama terjadi. Padahal, kita tidak dapat mengukur kecerdasan seekor ikan melalui tes memanjat pohon dan naik sepeda, bukan? Kita juga tidak dapat menganggap rusa itu bodoh, ketika ia tidak mahir berkicau.

Dan, begitu pula manusia yang memiliki keterampilan kompleks dalam berbagai bidang. Untuk mengenali bakat anak, Ayah dan Bunda perlu memahami dulu tentang teori kecerdasan majemuk dan alasan mengapa tes IQ tidak bisa menjadi satu-satunya pengukur kecerdasan anak.

  1. Mengapa tes IQ tidak dapat menjadi acuan?

Tes IQ telah didesain sedemikian rupa untuk mengukur tingkat kognitif, intelektual, bakat, kemampuan berpikir, keterampilan memecahkan masalah, dan penggunaan logika. Dengan skor yang tinggi, seseorang dianggap cerdas dan dapat lebih sukses menjalani pendidikan, maupun pekerjaan. Tes IQ juga sering kali menjadi acuan memilih karir atau bidang studi, serta tolak ukur pertama dalam mendiagnosis adanya masalah intelektual.

Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan diversifikasi kemampuan manusia, para psikolog menyadari bahwa terdapat faktor-faktor lain terkait kecerdasan dan kesuksesan. Pasalnya, tes IQ hanya fokus pada kemampuan kognitif, namun dianggap mendiskreditkan aspek krusial lainnya, seperti karakter, kreativitas, empati, kecerdasan spiritual, dan kecakapan interpersonal.

Karena itulah, lantas berkembang teori kecerdasan majemuk oleh Howard Gardner, yang termaktub dalam buku berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki setidaknya 8 kecerdasan berbeda yang menjadi keunikan individu dalam berinteraksi dan merespon dunia di sekitarnya. Yang kemudian, berkembang menjadi 9 kecerdasan majemuk yang dianggap dapat menggambarkan keanekaragaman bakat seseorang.

  1. Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Agar tidak terjebak oleh stereotip tentang intelektual yang berkutat pada kemampuan kognitif, Ayah dan Bunda wajib memahami teori kecerdasan majemuk untuk mengenali keunikan anak tercinta. Berikut ini 9 tipe kecerdasan yang perlu Ayah dan Bunda ketahui:

  • Verbal-Linguistik, meliputi keterampilan berbahasa, penyusunan kalimat, dan pemahaman terhadap makna dari kata-kata, yang tercermin melalui kegiatan membaca, menulis, dan bicara. Untuk melatihnya, dapat dilakukan dengan membacakan buku sejak usia dini, aktif mengajari kata-kata baru, dan mendukung anak untuk membangun percakapan, menulis, dan bercerita. Dengan kecerdasan verbal-linguistik ini, anak dapat menjadi sosok yang andal dalam bidang bahasa, gemar menulis dan membaca, mudah memahami dan mengingat informasi verbal atau tertulis, dapat melontarkan humor yang cerdas, serta memiliki tutur kata yang baik dan lugas.
  • Logis-Matematis, melibatkan keterampilan menggunakan logika, mengolah angka, dan memahami pola, baik secara visual, jumlah, warna, maupun pikiran. Untuk merangsang kecerdasan logis-matematis, Ayah dan Bunda dapat menggunakan permainan angka, analisis, strategis, atau mengeksplorasi dunia sains melalui eksperimen dan kunjungan ke museum, planetarium, atau pameran teknologi.
  • Spasial-Visual, berkaitan dengan imajinasi, serta aneka komponen visual, seperti gambar, bentuk, pola, tekstur, dan desain. Kecerdasan ini dapat terasah melalui kegiatan mewarnai, melukis, menggambar, permainan puzzle, building block, dan prakarya. Berdasarkan penelitian, kecerdasan spasial-visual berimplikasi pada memori dan logika yang baik. Dan, tentu saja menjadi bekal utama bagi para seniman, arsitek, dan desainer.
  • Kinestetik-Jasmani, mencakup keseimbangan dan koordinasi anggota tubuh. Aktivitas fisik menjadi ciri utama kecerdasan kinestetik-jasmani, baik berupa tarian maupun olahraga. Anak dengan kecerdasan ini cenderung mudah bosan dan tidak dapat diam dalam waktu lama, sehingga Ayah dan Bunda perlu mengembangkan bakatnya melalui klub olahraga, tari, atau teater.
  • Ritmis-Musikal, yang tercermin dalam kemampuan mengenali, memahami, dan merekayasa nada, irama, melodi, suara, ketukan, dan vibrasi, menjadi alunan musik yang baik. Kecerdasan ritmis-musikal dapat berkembang dengan menganalisis berbagai suara, dari alat musik, manusia, hingga alam sekitar.
  • Intrapersonal, yang bersifat introspektif, sehingga anak mampu memahami tentang diri sendiri, baik berupa kelebihan, kelemahan, dan motivasi diri. Kualitas ini menjadikan anak cenderung bijaksana, mampu mengendalikan keingian diri, mengatur perilaku, serta dapat membuat rencana dan keputusan yang baik. Umumnya, kecerdasan ini dimiliki oleh para ilmuwan, filsuf, dan penulis.
  • Interpersonal, berupa kecakapan sosial yang mendukung keluwesan dalam memahami, merespon, dan berinteraksi dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan interpersonal, dapat bekerja dalam tim, mampu menunjukkan empati, sensitif terhadap perasaan dan pikiran orang lain, pandai mengelola konflik, dan jago bernegosiasi. Ayah dan Bunda dapat mendukung bakat ini melalui kegiatan playdate, mengikuti acara komunitas, atau kegiatan sosial yang melibatkan berbagai kalangan.
  • Naturalis, mencerminkan kemampuan yang berkaitan dengan alam, seperti mengenali hewan dan tanaman, dan gemar berinteraksi dengan alam. Untuk melatih kecerdasan naturalis pada anak dapat melalui pembelajaran biologi, wisata alam, berkebun, mencari batuan dan kerang, atau memelihara hewan.
  • Eksistensial, ketika anak mampu berpikir mendalam terkait eksistensi manusia dan alam semesta, serta mengajukan pertanyaan filosofis, seperti “Untuk apa manusia diciptakan?”, “Apakah arti kebahagiaan?”, dan semacamnya. Kecerdasan ini berkaitan erat dengan bidang filsafat dan spiritualitas.

Terlepas dari 9 tipe kecerdasan di atas, intelektual anak juga terbentuk oleh faktor lain, seperti ASI, hereditas (keturunan atau genetik), stimulasi lingkungan, nutrisi, dan kreativitas diri. Karena itu, Ayah dan Bunda perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk mengamati dan menyelami pikiran anak, demi berkontribusi mengembangkan bakat alami mereka.

Selamat belajar bersama!

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn