Ketika Baby Blues Melanda, Para Ayah Juga Wajib Baca!

Baby blues bukan mitos. Meski kehadiran bayi memberikan euforia yang tak tertandingi, namun kesedihan dan fluktuasi perasaan juga kerap menghantui para Bunda yang baru saja melahirkan. Pada masa-masa seperti ini, dukungan dari lingkungan menjadi poin krusial, agar kondisi baby blues tidak berlarut-larut, hingga menjadi postpartum depression!

Melahirkan menjadi momen yang menakjubkan bagi seorang perempuan. Namun, sayang sekali, gejolak perasaan tidak selamanya dapat dikendalikan. Belum lagi, tekanan dari lingkungan sosial yang kurang berempati juga kerap memperburuk keadaan.

Akibatnya, perubahan hormon yang secara alami terjadi pasca melahirkan, terwujud menjadi sindrom baby blues. Apakah Bunda pernah mengalaminya? Coba cermati, berikut ini gejala baby blues yang umum terjadi:

  • Mood swing atau perubahan suasana hati yang begitu cepat dan signifikan.
  • Menangis atas hal sepele, atau bahkan tanpa alasan.
  • Mudah merasa cemas dan cenderung berlebihan.
  • Cenderung sedih dan murung.
  • Gelisah atas sebab yang kurang pasti.
  • Mudah putus asa dan kurang menghargai diri sendiri.
  • Sulit tidur di malam hari.
  • Tidak fokus dan sering kali ceroboh.

Apabila Bunda mengalami sebagian atau seluruh gejala di atas pasca melahirkan, bisa jadi Bunda tengah dilanda sindrom baby blues. Tenang saja, Bunda tidak perlu malu, merasa rendah diri, atau gagal menjadi ibu yang tangguh.

Bunda tidak sendirian, kok. Ada 80% ibu-ibu di luar sana mengalami hal yang sama, terutama pada kelahiran anak pertama. Meski Bunda harus mencoba beradaptasi, tidak perlu juga terlalu dipaksakan ya, Bunda.

Dalam perkara ini, orang terdekat, terutama suami, memegang peran penting dalam menciptakan rasa tenang dan mengurangi kegelisahan. Karena itu, Ayah juga perlu tahu fakta-fakta penting terkait sindrom ini. Terlebih, baby blues merupakan fenomena yang wajar terjadi karena dipicu oleh alasan-alasan yang masuk akal, seperti:

  • Hormon yang memengaruhi perubahan fisik dan emosional.
  • Perasaan terganggu karena adanya perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan.
  • Pola tidur yang tidak teratur, karena harus mendampingi bayi baru lahir, sehingga tubuh terasa cepat lelah.
  • Harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru sebagai ibu.
  • Keresahan yang timbul karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak, namun khawatir menjadi kurang sempurna.

Bunda yang mengalami sindrom baby blues sangat memerlukan dukungan dari lingkungan sosial. Dan, apabila kondisi baby blues tidak tertangani dengan baik, dapat berlanjut pada tahap yang lebih serius, yaitu postpartum depression. Dalam tahap ini, Bunda akan menunjukkan gejala-gejala depresi, seperti perasaan tertekan, kehilangan nafsu makan, dan sulit tidur.

Nah, sebelum postpartum depression terjadi, Ayah dan Bunda perlu segera ambil tindakan. Berikut ini upaya-upaya untuk menghindari atau meminimalisir sindrom baby blues:

  1. Cara Bunda mengatasi sindrom baby blues
  • Menjaga asupan dan aktivitas harian

Makanan bergizi seimbang sangat penting bagi Bunda pasca melahirkan. Selain untuk menjaga kesehatan dan mendukung kebutuhan menyusui, asupan yang baik juga dapat menstabilkan hormon dan memperbaiki suasana hati.

Hindari konsumsi alkohol, kafein, atau obat-obatan tanpa anjuran dari dokter. Atur porsi, jadwal, dan menu harian, serta beristirahatlah dengan cukup. Bunda juga dapat melakukan olahraga ringan, apabila tubuh telah bugar dan cukup mendukung.

  • Tidak segan meminta bantuan

Tidak perlu segan untuk meminta bantuan suami atau keluarga, dalam mengurus bayi tercinta. Bunda juga perlu memperoleh jeda yang cukup untuk tidur dan memikirkan kebutuhan diri sendiri. Ada baiknya, Bunda juga selalu mengkomunikasikan segala fluktuasi perasaan untuk sekadar mengurangi beban dan meningkatkan kepedulian dari orang-orang di sekitar.

  • Bersosialisasi

Meski sibuk mengurus bayi, Bunda masih perlu terkoneksi dengan lingkungan sosial. Terlebih, saling berbagi pengalaman pasca nelahirkan dengan teman atau keluarga, juga dapat mengurangi beban di pundak, terutama jika Bunda memperoleh perhatian, dukungan, pengertian, dan saran yang baik dari mereka.

  • Memeriksa perkembangan anak

Setiap tahapan tumbuh kembang bayi dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi Bunda. Maka, lakukan pemeriksaan secara rutin, sembari berkonsultasi mengenai kondisi Bunda kepada para ahli.

  1. Peran Ayah mengatasi sindrom baby blues
  • Dampingi Bunda melalui setiap tantangan dari hamil hingga menyusui, dan berikan dukungan agar Bunda tetap tenang dan bahagia.
  • Berinisiatif memberikan bantuan untuk mengurus bayi, terutama di malam hari, agar Bunda dapat beristirahat cukup pasca berjuang saat melahirkan.
  • Berikan hadiah-hadiah kecil untuk membuat Bunda merasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang.
  • Jadilah pendengar yang baik ketika Bunda mencoba mengkomunikasikan segala perasaannya.
  • Bantu Bunda mengerjakan pekerjaan rumah yang cukup berat ia lakukan pasca melahirkan.
  • Amati dan tanyakan mengenai kondisi dan perasaan Bunda, misalnya “Sudah makan?”, “Kenapa terlihat sedih?”, “Mau ditemani?”, dan sebagainya.

Tenang saja, sindrom baby blues tidak akan berlangsung lama, kok. Umumnya, gejala-gejala tersebut akan mereda dalam dua—tiga minggu.

Karena itu, apabila gejala baby blues tidak kunjung membaik dan menjadi semakin serius, Ayah dan Bunda perlu mengunjungi psikolog atau dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut. Tingkatkan pula kerja sama dalam mengurus bayi yang baru lahir, untuk menciptakan suasana yang hangat dan harmonis dalam rumah tangga.

Semangat, Ayah dan Bunda. Ingat, happy wife, happy life!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email